Friday, 21 March 2008

Ciu : Perlawanan Kultural Terhadap Hegemoni Industri Hiburan Yang Tak Terbeli.



Ide untuk mengawali tulisan ini sebenarnya dipicu dari sebuah obrolan pagi khas mahasiswa di kantin kampus saya. Pagi itu saya ada janji dengan Om Kenthir ( salah satu senior saya di kampus yang sampai sekarang belum juga lulus..sekarang jadi sesepuh...he.he..) untuk mengambil softcopy contoh karya-karya tugas akhir. Setelah mandi dan mendengarkan soundtrack pagi hari dari playlist winamp di komputer, sayapun sarapan sampil manggut-manggut mengikuti irama lagu Dumb Reminder dari No Use For A Name. Motor butut sudah menunggu untuk ditunggangi, sayapun bergegas menuju kampus. Lalu lintas kota Solo tidak begitu macet. Perjalanan dari rumah menuju kampus saya tempuh dalam waktu relatif singkat, hanya 10 menit. Sesampai di kampus yang tak pernah saya cintai itu, suasana kantin seolah memanggil naluri saya untuk meniliknya. Rokok yang terbakar sudah tersemat diantara bibir. Asap mengepul seiring dengan sapaan beberapa teman, sayapun menembus kepulan asap itu dan menghampiri 2 teman saya yang ternyata bernama Willy dan Zeno.

Diawali dengan sapaan khas saya : “Piye bro, kabarmu ? skripsimu tekan ngendi ?”. Willy pun menyambut sapaan saya : “ Lha kowe dewe tekan ngendi?”. Saya pun bingung untuk menjawab pertanyaan yang seolah meminta pertanggungjawaban moral, ideologis dan karakter intelektual saya yang pas-pasan tentang apa yang disebut skripsi itu. Pertanyaan Willy membuat saya terdiam beberapa saat. Rokok menjadi teman berpikir untuk memanggil kembali short term memory saya. Dengan singkat saya menjawab : “ Aku mbaleni meneh seko awal, latar belakang penelitianku kurang kuat, terus aku dikon nambahi teori tentang kekerasan.” Willy hanya bergumam lirih : “ Ooooooo…ngono to…yen aku ganti judul penelitian, aku ora sido ngangkat tema stigmatisasi terhadap anak cucu eks PKI.” Belum sempat menanggapi ungkapan Willy itu, Zeno yang dari tadi diam, tiba-tiba menyambar. “ Yen aku ngangkat fenomena ngombe Ciu nang Solo. Terus tak gathukke karo agama dan budaya lokal.” Ungkapan dua teman saya itu menganggu pemikiran dan seolah menampar halus pipi saya, terutama ungkapan Zeno tentang Ciu. Mengapa ide sebrilian itu tak pernah terpikirkan? Ternyata saya lebih memilih berkompromi dengan sistem birokrasi di kampus sehingga saya hanya melakukan pengulangan metodologi penelitian bertumpuk-tumpuk skripsi di perpustakaan tentang semiotika film. Tumpukan skripsi tentang semiotika film itu bagi saya tak lebih dari sebuah akuarium dengan berbagai macam ikan hias yang berwarna-warni. Metode semiotik sebagai akuariumnya, sedangkan film-film yang diteliti sebagai ikan hias yang berwarna-warni itu. Sayapun hanya akan menyumbangkan ikan lagi ke dalam akuarium itu, bukan hewan yang lain seperti kura-kura brazil misalnya.

Setelah cukup melakukan obrolan ngalur ngidul tentang skripsi, sayapun bergegas untuk menemui Om Kenthir yang memang sudah janjian dengan saya. Inisiatif saya seketika itu muncul dan mengarahkan kaki saya menuju area hot spot yang baru-baru ini menjadi simbol kemajuan teknologi di kampus saya, walaupun terlambat begitu lama. Om Kenthir ternyata sudah berada di tempat itu, tempat yang menjadi favorit mahasiswa ketika sedang berada di kampus. Inti dari pertemuan itu, Om Kenthir meminta bantuan saya untuk membuat narasi untuk karya tugas akhirnya. Dengan senang hati saya akan membantunya, dengan harapan agar cepat lulus, dan tidak menyandang gelar sesepuh lagi diantara kami.he...he..he..

Sesampai di rumah, saya terganggu dengan tema skripsi yang diangkat Zeno tentang fenomena ngombe (minum)Ciu. Bagi masyarakat Solo, Ciu sudah menjadi hal yang sering didengar dan tidak asing lagi. Ciu adalah minuman beralkohol hasil fermentasi dari tebu. Kadar alkohol yang terkandung dalam Ciu bisa lebih dari 40%. Bila sampeyan belum pernah minum Ciu, jangan sekali-kali menenggaknya, karena akan menimbulkan sensasi rasa yang sangat aneh dan tidak enak. Jangan bandingkan produk asli Bekonang ini dengan Coca Cola yang menjadi tren gaya minum global. Jika sampeyan berani mencoba, saya sarankan jangan menenggak minuman ini secara murni atau lawaran. Tak menutup kemungkinan produk Amerika yang bernama Coca Cola itu sampeyan campur untuk menyelamatkan reputasi buruk rasa Ciu. Dalam hal ini terdapat akulturasi budaya yang cukup memikat. Budaya global tercampur dalam budaya lokal. Walaupun hanya representasi, tapi percampuran antara Ciu dan Coca Cola menjadi sangat relevan dan sangat dekat dengan fenomena budaya lokal kita yang mulai terkikis karena tidak mampu membendung derasnya budaya global. Kalau Ciu bisa tercampur dengan Coca Cola, kenapa budaya lokal yang lain tidak bisa bercampur dengan budaya global? Mungkin ini hanya analisa super ngawur saya. Jangan sekali-sekali mengamininya, saya anjurkan untuk menambahkan dan bahkan mengkritisinya.

Kembali ke Ciu lagi. Ciu merupakan alkohol murah yang dipaksa identik dengan kaum marjinal seperti preman dan anak jalanan dan selalu dikaitkan sebagai pemicu dengan kriminalitas. Beberapa riset menyebut ada korelasi antara pengaruh alkohol dengan tingkat kriminalitas yang tinggi, dan riset itu valid dengan kuatnya data-data di lapangan. Tetapi di luar segala stigma negatif yang ditimbulkan, Ciu merupakan sarana perekat dalam menjalin relasi pertemanan di kalangan kaum pemakai sendal jepit. Dengan menenggak Ciu, suasana obrolan menjadi lebih seru, karena orang yang sudah terkena dampak Ciu akan ngomyang. Bicaranya bisa lepas tanpa beban seiring dengan tingkat kesadaran yang menurun. Biasanya, kalo ada peminum Ciu yang sudah ngomyang, maka teman-teman yang berada di kalangan itu akan mengerjainya. Istilah jawanya ditanggap, karena orang itu seolah-olah seperti seorang penyiar radio tanpa konsep yang jelas. Bisa tiba-tiba mempertanyakan konsep Tuhan dan keberadaannya, bisa tiba-tiba mengharu biru dengan urusan cintanya, bisa tiba-tiba sangat optimis dengan hidup yang dijalaninya. Sebenarnya efek mabuk minum Ciu tidak ada bedanya jika kita menenggak minuman beralkohol yang sudah terdaftar ke Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Perbedaan yang signifikan dapat dilihat dalam segi harga. Satu liter Ciu biasanya dibanderol lima ribu rupiah. Seperti ungkapan teman saya yang juga penikmat Ciu : ”Lima Ribu Bikin Gokil!” he..he..he..

Dalam kacamata agama manapun, minuman beralkohol dianggap sebagai sesuatu yang haram. Mulai dari Rhoma Irama sampai FPI menghujat minuman ini. Sebenarnya segala macam bentuk hujatan itu hanya terfokus pada efek negatif minuman beralkohol yang mengganggu kesadaran dan potensial menimbulkan tindakan kriminal yang tidak sesuai dengan konsensus publik yang disebut etika. Dari kacamata medis, minuman beralkohol jelas bukan minuman yang sehat karena bisa mengganggu koordinasi sitem syaraf. Sepertinya koridor budayalah yang mampu memfasilitasi keberadaan Ciu. Masing-masing daerah mempunyai minuman tradisionalnya. Di Jogja kita mengenal Lapen, di Semarang ada Congyang. Karakteristik minuman beralkohol di masing-masing daerah berbeda-beda, baik dari segi rasa, kandungan alkohol, serta dalam event budaya apa minuman itu biasanya hadir.

Ada semacam fenomena budaya di Solo yang menjadikan Ciu sebagai pemicu kemabukan agar bisa lebih menikmati sebuah hiburan rakyat. Sebut saja dangdut. Setiap ada pertunjukan dangdut, baik itu di THR (Taman Hiburan Rakyat ) maupun di event-event yang cakupannya kecil seperti hajatan, bisa dipastikan Ciu hadir di tengah-tengah massa. Selain sebagai pemicu untuk mencapai kondisi mabuk, Ciu hadir sebagai bentuk perlawanan terhadap hegemoni industri hiburan yang tak terbeli yang hadir melalui MTV, I Pod, Mall yang seolah-olah menyeragamkan kesenangan dan selera kita. Kita merasa lebih civilized ketika minum kopi bergambar putri duyung di gerai sebuah Mall. Kita merasa lebih eksis ketika kita mampu mendengarkan lagu favorit kita melalui I pod. Kita merasa lebih trendi dan gaul bila kita pergi jalan-jalan ke Mall daripada ke pasar rakyat seperti di Sekaten. Berhala-berhala industri budaya pop itu memanipulasi kita, mengendalikan kita, dan mengkungkung kita dalam tuntutan-tuntutan untuk memenuhi hasrat konsumeris kita. Bagi kaum marjinal, anak jalanan, preman dan anak-anak muda yang merasa terpinggirkan oleh kehadiran berhala ala Amerika, Ciu + Dangdut + Goyang menjadi pertahanan dan perlawanan terakhir terhadap serbuan budaya global. Orang-orang itu mempunyai jiwa yang bebas dan bisa menjadi diri mereka sendiri. Mereka mempunyai selera dan cita rasa yang khas, terlepas dari penyeragaman cita rasa dan selera yang dilakukan industri hiburan global. Mereka tidak membenci hiburan-hiburan mahal dengan semangat primordial dan gaya perlawanan lokal. Mereka hanya butuh hiburan yang terjangkau di tengah-tengah himpitan kesulitan ekonomi. Mereka tetap eksis dengan pilihannya. Mereka masih ada di tengah-tengah kita.

Wednesday, 13 February 2008

Happy Valentine Day


Momentum 14 Februari sebagai hari kasih sayang global tampaknya hanya menjadi komoditas budaya kapitalis semata. Hal ini dapat dilihat ketika Pusat-pusat perbelanjaan didominasi warna pink dan ornamen-ornamen berbentuk hati. Acara televisi mendompleng dengan menayangkan film-film romantis. Radio-radio memutar lagu-lagu romantis yang masuk dalam kategori everlasting. Produk-produk fashion dan gaya hidup mengeluarkan edisi valentine. Untuk apa ini semua? Tentu saja untuk mengejar profit sebesar-besarnya dengan menjadikan orang-orang yang merayakan Valentine sebagai masyarakat pasar. Konsumen media dan jutaan pasangan di dunia yang melihat cinta sebagai hubungan interpersonal merayakannya, meski hanya dengan ucapan verbal “ Selamat Hari Valentine” kepada orang yang dianggapnya penting dan berhak untuk disayangi.

Sayangnya, Valentine Day dijadikan pembungkus manis untuk mengemas kebiasaan yang membuat coklat dan bunga mawar menjadi barang wajib sebagai ungkapan kasih sayang. Semua orang dibawa pada sebuah suasana penuh cinta kasih. Valentine Day hanya berhasil mendefinisikan cinta dalam perspektif interpersonal dua manusia yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Cinta diantara dua pribadi ini bersifat eksklusif dan tidak universal. Menurut Erich Fromm seorang psikolog mazhab Frankfurt, cinta seperti ini disebut sebagai cinta erotis. Dalam cinta erotis ini, eksklusifitasnya terletak pada objek yang dicintai. Saya akan menyayangi kekasih saya sepenuh hati, tanpa melihat orang lain sebagai manusia yang berhak mendapatkan perilaku aktif atas nama cinta dari saya. Sering kita jumpai sepasang manusia yang saling mencintai dengan tanpa merasakan cinta kepada orang lain.

Makna substansial di hari Valentine dikaburkan dengan warna pink, bunga mawar dan sekotak coklat. Ikon-ikon itu seolah merepresentasikan cinta. Seperti ungkapan terkenal : katakan dengan bunga. Masalahnya, apakah dengan memberikan bunga kepada orang yang kita anggap penting, sudah merepresentasikan cinta? Sebenarnya mencintai bukanlah sebuah persoalan yang mudah. Hampir tidak ada aktifitas atau usaha yang dimulai dengan bermacam impian dan harapan yang begitu luar biasa namun mengalami kegagalan begitu saja, seperti halnya cinta.

Persoalan penting dalam mencintai adalah memberi. Dalam hal ini bukan soal bahwa dia telah mengorbankan hidupnya demi orang lain melainkan bahwa dia telah memberikan apa yang hidup dalam dirinya, dia memberikan kegembiraannya, kepentingannya, pemahamannya, pengetahuannya, kejenakaannya, kesedihannya dan semua ekspresi serta manifestasi yang ada dalam dirinya. Dengan tindakan tersebut, seseorang telah memperkaya orang lain, meningkatkan perasaan hidupnya sendiri. Cinta adalah kekuatan yang menghasilkan cinta, dan impotensi adalah ketidakmampuan untuk menghasilkan cinta. Pandangan ini dengan sangat indah dikemukakan oleh Karl Marx : “ Anggaplah manusia sebagai manusia dan hubungannya dengan dunia sebagai hubungan yang manusiawi. Kamu hanya dapat menukar cinta dengan cinta, kepercayaan dengan kepercayaan dan sebagainya.”

Tetapi bagaimana perasaan orang-orang yang berada di tengah kecamuk kekerasan seperti di Kenya, Irak, Palestina, dan Uganda? Bagaimana orang-orang yang tengah dilanda konflik dan kekerasan itu mencoba mendefinisikan cinta ? Apakah mereka juga merayakan hari kasih sayang global ini? Setidaknya dengan momen tahunan ini, mereka yang tengah dilanda konflik dan kekerasan mampu menyita perhatian kita walau sebentar. Mereka juga berhak merayakan hari yang penuh dengan cinta kasih dan perdamaian, setiap hari, tidak pada hari ini saja. Selamat merayakan hari kasih sayang!

Tuesday, 30 October 2007

Apa yang anda pelajari dari ILMU KOMUNIKASI?


Dedicated to : Doni Putra Daerah & Joell Gunemanku

Dear my friends,
Belakangan ini saya kok sempat risih mendengar gosip bahwa jurusan yang kita ambil di kampus kita tercinta ini tidak memenuhi kualifikasi lapangan pekerjaan. Sumpah, saya benar - benar risih mendengarnya. Bagaimana dengan sampeyan ? Apakah risih juga seperti saya ? Lama - kelamaan, saya sempat meng-under estimate institusi tempat kita bernaung sekarang ini. Visi dan misinya kok menuju ke arah kapitalisme pendidikan, perkuliahan dijadikan barang dagangan tanpa mau ber-emansipasi dengan peserta didik dalam hal perbaikan kualitas dan mutu pengajaran. Seolah-olah mahasiswa menjadi manusia kelas dua di kampus. Strata sosial mahasiswa selalu di bawah dosen untuk ukuran intelektual. Ini cara berpikir zaman Orde Baru dulu, ketika orang yang lebih pintar(dosen) selalu benar. Kapan mahasiswa kedudukannya bisa equal dengan dosen dalam hal transfer pengetahuan? Orientasi saya untuk mendapatkan ilmu komunikasi massa yang handal akhir-akhir ini melempem, kayak krupuk yang toplesnya lupa ditutup. Huh..sebenarnya saya mau menyalahkan pihak-pihak yang menurut hemat saya, harus bertanggung jawab. Tapi apakah dengan sekedar menyalahkan, akan menyelesaikan masalah? Akhirnya saya berpikir, sekuat apapun argumen saya untuk minta pertanggungjawaban, saya ini cuma “manusia kelas dua” di kampus yang jurusannya tidak memenuhi kualifikasi.ha.ha.. Cukup sudah saya ngomel tentang keadaan kampus kita. Capek, ngga ada yang dengerin. Teman-teman, selama proses perkuliahan, apa yang teman2 dapatkan mengenai komunikasi ? Doktrin - doktrin dari dosen-dosen konvensional di kampus kita sudah sangat uzur dan tidak up to date. Lha wong mahasiswa itu khan bisa baca buku,bisa browsing di internet, bisa beli KOMPAS seribuan,bisa berinteraksi di blog, eeee… lha kok didikte tentang teori2 yang njlimet dan kadang belum tentu benar menurut para praktisi yang sudah mengalaminya di lapangan pekerjaan. Sangat lucu dan ironis. Kapan sistem pendidikan kita mulai melibatkan praktisi, jika tujuan akhirnya mau mencetak sarjana-sarjana yang handal dibidangnya. Ah, sudahlah…daripada kita budrek dan mumet, mari kita ngomongin dimensi-dimensi yang ada dalam ranah komunikasi itu sendiri. Hitung-hitung buat belajar. Hmm, kita memperbincangkan Handphone sajalah..sebagai salah satu gadget wajib dalam era teknologi dan informasi saat ini. Ketika saya membaca blognya mas Joell yang unik dan khas dengan identitas kelokalannya, saya tertarik dengan HP yang nampang di sana. Saking cintanya, mas joell ndak mau untuk mengganti HP-nya yang udah ngga up to date lagi menurut saya. Eh, tanpa saya sadari, sekarang-pun saya juga menggunakan HP yang ndak kalah ndeso-nya dengan HP milik mas Joell.he.he. Memang sih, sekarang ini kita sedang memasuki “zaman informasi” yang serba online dan bisa sangat sulit untuk berkomunikasi, jika kita tidak memegang HP. Hingga saat ini, lambang atau simbol zaman informasi adalah teknologi multimedia yang berkembang dengan pesat sejak ditemukannya internet. Dengan riset dan inovasi yang simultan, telepon genggam siap mengambil alih dan memasukkan Internet ke dalam imperium komunikasinya. Barangkali aspek yang paling berpengaruh dari mobilisasi adalah kemampuannya mengubah definisi zaman komunikasi, dan karenanya juga mengubah bayangan tentang masa depan yang dimulai sejak saat ini. Saya kok kepikiran, jangan-jangan, komunikasi melalui HP adalah komunikasi antara HP satu dan HP lainnya, bukan orang satu kepada orang lainnya. Alat yang saling “berkomunikasi” itu melakukan hubungan. Sekali lagi, alat-alat itulah yang mampu berkomunikasi dengan bahasa baru. Manusia sebagai pelaku komunikasi menjadi terasing ketika menggunakan HP sebagai alat komunikasi. Tampaknya HP masa depan bukanlah merupakan alat yang benar-benar berpengaruh dan menarik, tidak ada satupun dari hal-hal itu yang perlu diperdebatkan. Namun, karena HP akan menjadi alat yang begitu penting, maka bagaimana ide tentang berbagai fitur tambahan dalam sebuah HP akan menjadi hal yang penting untuk memudahkan manusia. Sekarang ngga perlu susah-susah ke warnet ato bawa2 laptop ke area hotspot, dengan E90, seri communicator terbaru keluaran NOKIA, kita bisa ngacak-ngacak dan berselancar ke berbagai jaringan favorit kita. Pada awalnya HP dihadirkan sebagai alat yang berfungsi memudahkan komunikasi antar individu, pada akhirnya revolusi teknologi informasi tanpa kabel ini justru menciptakan pergeseran-pergeseran bentuk dan makna dari aktivitas komunikasi itu sendiri. Pergeseran ini tidak hanya melampaui teknologi saja, tetapi juga memasuki pergeseran kultural. Sekarang ini kita memasuki masa dimana HP telah menjadi bagian dari gaya hidup. Gaya hidup bisa dilihat hanya dengan melihat HP apa yang digunakan seseorang, karena melalui HP seseorang bisa mengekspresikan dirinya. Berkomunikasi tidak hanya menjadi aktivitas yang menyenangkan, tetapi juga menguntungkan. Dengan modal dan tenaga yang terbatas, didukung oleh revolusi teknologi, sampeyan dapat melakukan komunikasi dimana saja, kapan saja dengan siapa saja dan untuk kepentingan apa saja. Ruang dan waktu menjadi sesuatu yang begitu lentur untuk ditembus, sekat - sekatnya dulu yang kokoh, kini hanya dengan memasukkan password, kita sudah bisa memasuki sebuah dunia dengan interaksi tanpa batas ruang dan waktu. Begitulah persepsi saya tentang HP dalam ranah komunikasi modern. Saya minta tanggapan dari sampeyan. Jangan lupa, walaupun kita termasuk mahasiswa yang tidak memenuhi kualifikasi, setidaknya kita cukup berkualitas dalam hal bikin posting. Ha.ha.ha. Hidup blogger

Sunday, 28 October 2007

Didikte Pasar



Di Indonesia, Nokia seri Communicator digemari pria dan wanita dan dijadikan status simbol oleh siapa saja, termasuk para lurah di berbagai daerah di Indonesia. Padahal, di pasaran Indonesia mulai banyak ponsel cerdas yang dijajakan dari berbagai merek ternama dengan fitur, teknologi, maupun desain yang tidak kalah menarik.

Komputer genggam yang dikenal dengan sebutan PDA phone, yang masuk ke Indonesia dengan berbagai macam merek pun masih sulit untuk bisa menyaingi seri Communicator ciptaan orang-orang Finlandia tersebut. Semua penggemar Communicator terpaku dan tergiur begitu Nokia mengumumkan seri E90-nya yang terbaru.

Perkembangan ponsel cerdas belakangan ini memang menjadi semakin menarik, di luar fenomena Nokia Communicator tentunya. Sudah lama merek-merek ternama dunia seperti Motorola dan Sony Ericsson memperkenalkan ponsel cerdas dengan berbagai kemampuan, rancang desain yang menarik, serta harga jual yang masuk dalam kategori ponsel high-end.

Kehadiran ponsel cerdas oleh berbagai perusahaan manufaktur ternama dunia selalu ditunggu oleh para penggemar gagdet. Entah karena hobi untuk setiap kali mengganti ponsel yang digunakannya atau untuk keperluan lain, semua orang antusias menantikannya.

Ketika Nokia memperkenalkan penerus produk seri Communicator-nya, misalnya, pekan lalu, semua orang pun memusatkan perhatiannya karena acara tersebut memperkenalkan ponsel cerdas terbarunya, seri E90. Semua perhatian tertuju, menantikan dan menyimak dengan benar apa yang dijadikan andalan pada produk terbaru yang akan dijual pertengahan bulan depan tersebut.

Yang menarik, pada acara perkenalan E90 kepada komunitas pengguna Nokia Communicator Indonesia, produk E90 ketika dilelang berhasil mencapai angka penjualan yang fantastis sampai Rp 45 juta. Ini adalah harga ponsel cerdas termahal di dunia dan lebih mahal dibanding iPhone buatan Apple yang juga dinantikan banyak orang.

Ponsel cerdas memang menjadi fenomena menarik. Banyak faktor yang ikut menentukan. Fitur dan teknologi merupakan satu faktor. Dan menjadi ciri alamiah, kita memang condong untuk mengagumi kemajuan teknologi, terutama miniaturisasi yang memungkinkan sebuah gadget menjadi lebih ringkas.

Di Indonesia ada faktor lain. Namanya gaya hidup. Hanya di Indonesia ponsel cerdas seri Communicator buatan Nokia yang memiliki penggemar paling besar di dunia. Sehingga tidak mengherankan, Nokia kemudian memutuskan untuk menjual Nokia E90 pertama kali di Indonesia sebelum masuk ke pasaran negara lain.

Gaya hidup memang bukan ciri khusus pengguna ponsel cerdas di Indonesia. Sampai sekarang memang tidak ada penjelasan yang memuaskan kenapa seri Communicator sejak pertama kali menarik animo banyak orang dan diperkirakan sudah ada sekitar 500.000 unit Communicator yang dijual di Indonesia sejak seri 9000.


Thursday, 25 October 2007

Kecemasan dari sebuah dialog pagi di TV



Krisis Membayang. Begitulah judul sebuah bedah editorial Media Indonesia yang saya saksikan tadi pagi ( 24 Oktober 2007 ) di Metro TV. Dalam acara itu ada mas Tommy Cokro yang guanteng dan Bung Laurens Tatu anggota dewan redaksi Media Indonesia. Masalah yang dibahas dalam dialog ini adalah sebuah kecemasan akan sebuah momok bernama krisis ekonomi. Saya dan sampeyan pasti masih ingat betul akan krisis moneter yang menghantam Indonesia pada tahun 1997-1998. Kayaknya, ketakutan – ketakutan itu akan muncul lagi. Tapi lucunya, menteri ekonomi kita, pak Budiono mengatakan bahwa keadaan ekonomi Indonesia tetap pada level yang stabil dan aman. Hmmm…kayaknya beliau terus menerus menghibur rakyat dengan ungkapan tersebut.

Tak bisa kita pungkiri, bahwa perekonomian kita terlibat dalam perekonomian global. Apa yang terjadi dalam perekonomian global tentu saja akan berdampak pada kondisi perekonomian nasional kita. Alasan klasik muncul lagi dalam perekonomian global : kenaikan harga minyak mentah dunia yang diprediksi akan mencapai 100 USD per barel. Walah – walah, lha wong harga minyak mentah yang sekarang saja sudah membuat rupiah rontok, apalagi mencapai 100 USD per barel. Tentu saja kenaikan harga minyak dunia ini akan membawa konsekuensi berupa meningkatnya laju inflasi dan melemahnya pertumbuhan ekonomi.

Karena sifatnya interaktif, acara dialog pagi itu melibatkan beberapa penelfon. Para penelfon itu rata-rata mengungkapkan kecemasan yang sama terhadap kemungkinan terulangnya krisis ekonomi. Ngga usah jauh-jauh, kemaren waktu BBM naik pada tahun 2005, banyak terjadi kasus yang sangat khas…mulai dari perusahaan yang gulung tikar, pemutusan hubungan kerja, penganguran bertambah, sulitnya lapangan pekerjaan, banyak sarjana menganggur, barang kebutuhan pokok melambung tinggi, kemiskinan bertambah, angka kriminalitas meningkat, dan bla.bla.bla..kayaknya dari dulu sampe sekarangpun kita masih saja dekat dengan masalah – masalah itu..ya beginilah nasib negara berkembang yang terlibat dalam Globalisasi yang katanya memakmurkan…non sense! yang ada hanya : negara yang kaya akan semakin dikayakan(semakin dibuat kaya) dan negara yang miskin akan dimiskinkan (semakin dibuat miskin).

Inilah persoalan besar yang sedang kita hadapi. Kita ngga mungkin bisa sembunyi dari krisis, kalo itu benar-benar terjadi. Kita hanya bisa menghindar dengan melakukan antisipasi dini dengan memperkuat ekonomi rakyat. Wah, lucu juga kalo masih saja memperbincangkan ekonomi rakyat di tengah terpaan sistem ekonomi kapitalis neo liberal, dimana terjadi persaingan sempurna dan mekanisme pasar menjadi kredo. Ngga bakalan ada toleransi bagi yang ketinggalan. Dari situasi inilah, World Bank dan IMF tampil menjadi penolong yang baik hati dengan bantuan ekonominya..he.he..

Gimana mau jadi penolong, lha wong Amerika Serikat yang anggota IMF ngurusi masalah kredit rumah saja masih kelimpungan. IMF tidak bisa berbicara banyak tentang akar krisis yang sedang mengancam ini. IMF hanya sekedar memberi rekomendasi tentang perlunya kehati-hatian menghadapi krisis yang tak terbayangkan sebelumnya. IMF tak mempunyai kemampuan yang memadai. Ini menjadi pelajaran bagi para ahli ekonomi kita ( yang kebanyakan lulusan University of California Berkeley ) untuk segera bertindak, bukan sekedar ngeyem-yemi/menghibur rakyat terus. Rakyat sekarang sudah pinter dan ngga bisa untuk sekedar dihibur saja.

Tuesday, 23 October 2007

Your Revolution Is A Joke


Sekarang ini saya coba menuangkan uneg-uneg, dengan ditemani playlist andalan yang terpampang rapi di software pemutar mp3 klasik. Hmm..Tadi saya menonton “Saksi Mata” di Global TV yang kira-kira tayang jam 19.30 ( Kamis, . Berita utamanya tentang bentrokan antar sesama anggota Pemuda Pancasila di Makassar. Bentrokan tersebut dipicu oleh perbedaan pendapat mengenao pembangunan Mall di lapangan Karebosi yang merupakan landmark kota Makassar. Kebetulan, saya mendapatkan suguhan visual yang menampilkan pengeroyokan seorang anggota Pemuda Pancasila oleh rekannya sendiri, karena menolak pembangunan Mall di lapangan yang menjadi ikon kota Makassar tersebut. Hampir tiap sore, tayangan-tayangan kekerasan kok semakin membanjiri stasiun TV kita. Tidak usah disebutkan dampaknya, sampeyan pasti juga langsung akan tau. Memang, bisnis pertelevisian kita kadang mengesampingkan kode etiknya, tapi apa boleh buat, Komisi Penyiaran Indonesia yang menjadi regulator-pun, dibuat mati kutu. TV seolah-olah membawa kekuatan magis yang bisa menghantarkan peristiwa kekerasan itu ke tengah-tengah ruang keluarga ketika kita, dan melebihi realitas sesungguhnya.

Kekerasan demi kekerasan dapat kita amati setiap hari melalui media massa. Kalo sampeyan memperhatikan, dalam sebuah perstiwa kekerasan pasti terdapat unsur-unsur yang membentuknya. Saya coba membuat sebuah skema kekrasan menurut versi saya. Kira -kira begini : sebab/motivasi --- pelaku --- tindakan fisik/non-fisik --- korban --- dampak fisik/non-fisik --- sebab/motivasi. Yup, seperti itu penggambarannya. Saya melihat bahwa setiap peristiwa kekerasan itu sebagai sebuah siklus dan akan terus memproduksi kekerasan-kekerasan berikutnya. Dalam hal ini, kita tidak akan bisa menghentikan sebuah kekerasan tanpa memotong siklusnya.Itu baru dari kasus kekerasan yang melibatkan dua pihak yang saling bertentangan. Ternyata, dimensi kekerasan itu sangat luas, apalagi kalau kita coba melihatnya dari perspektif negara ketiga, khusunya Amerika Latin. Banyak gerakan-gerakan revolusioner yang bersumber dari sini. Mulai dari Che, Paulo Freire, Dom Helder Camara, Hugo Chaves dll. Menurut Dom Helder, ketidakadilan adalah kemiskinan dan itulah kekerasan yang paling mendasar. Situsi inilah yang menyebabkan manusia jatuh ke dalam lembah sub-human yang melahirkan gerakan - gerakan pembangkangan dan pemberontakan.

Pembangkangan itu didorong oleh berbagai motif. Bagi kaum ekstrim kiri, perjuangan menggelar pemberontakan itu didorong oleh keinginan membebaskan kaum tertindas yang hanya bisa dilakukan dengan gerakan bersenjata, seperti yang dilakukan mas Che Guevara yang menjadi ikon popular di kalangan aktifis mahasiswa yang baru hangat-hangatnya belajar demo.( he.he.saya dulu juga seperti itu deng…) Gerakan ini mendewakan aksi-aksi agitasi yang tanpa itu, rakyat tertindas tidak akan terbebaskan.Ada juga yang tergerak oleh perasaan religius. Dengan semangat keagamaan yang menggebu-gebu kaum ekstrem kanan ini menggelar aksi turun ke jalan. Maka mengalirlah narasi pemberontakan dan raungan protes di jalan-jalan untuk kehendak revolusi yang ditafsirkan sebagai perang tanding melawan tentara bersenjata lengkap dengan atribut2 militernya. Ketika jalan-jalan yang umumnya hanya dipakai untuk mengangkut upeti ekonomi kepada kekuasaan dihalang-halangi, maka penguasa pun merasa berkewajiban mengambil tindakan tegas, dan itusudah pasti lewat kekerasan dan represi yang ngga ketulungan ganasnya. Sperti yang dilakukan pemerinta Junta Militer Myanmar terhadap para bhiksu yang turun ke jalan. Hmm..sebuah pembelajaran menarik bagi saya. Tampaknya sebuah track dari Funeral For A Friend yang berjudul “Your Revolution Is A Joke” menusuk telinga saya dan sangat tepat jika saya sandang, karena saya seolah sia-sia menulis posting yang sok revolusioner ini tanpa tahu siapa yang akan membacanya..he.he..

Hukuman Mati, Masih Relevankah?


Saya tertarik dengan posting mas Joell di gunemanku.blobspot.com yang membahas tentang hukuman mati bagi pelaku kriminal. Hmm..saya sempat berpikir, apakah kematian itu selalu vis a vis dengan kematian, dalam hal ini, tindakan yang menyebabkan kematian seseorang atau sekelompok orang ( pembunuhan, pembantaian, terorisme ) akan mengakibatkan pelaku tersebut dihukum mati. Ini berarti konsep hukum retribusi di abad pertengahan masing berlangsung sampai sekarang. Sudah menjadi adagium bersama bahwa kematian dibalas dengan kematian, kekerasan dibalas dengan kekerasan, seperti hukum rimba saja kedengarannya. Dan kita pun menganggap hukuman itu adil. Sudah umum diketahui bahwa hukuman gantung, guillotine (potong leher), dan hukuman cambuk di pusat kota menjadi pemandangan umum sampai akhir abad ke-19, termasuk di Eropa. Tidak hanya kalangan anak-anak miskin dan marginal yang bersorak-sorai menyaksikan pemandangan kematian tersebut. Thomas Cook & Co justru mengorganisasi sebuah tur di Paris pada akhir abad ke-19 yang menjadikan hukuman guillotine sebagai salah satu atraksi menarik. Hmm, kalo Pak Bondan Winarno ngetrend dengan Wisata Kuliner-nya maka Thomas Cook & Co ngetrend dengan “wisata proses membunuh manusia dengan menebas kepala sehingga terpisah dengan badan” hua.ha.ha, cukup ngeri bukan?

Setelah itu, banyak negara Eropa yang maju selangkah dengan melarang eksekusi publik serta hukuman mati. Sayangnya, hukuman mati terus berlanjut dipraktikkan di banyak negara sampai saat ini. Itu bukanlah hukuman mati seakan-akan dilarang karena rakyat biasa di negara-negara ini dipenuhi rasa antipati terhadap hukuman mati. Di Inggris, hukuman tersebut dilarang, terutama karena adanya kampanye antihukuman mati yang dilakukan Charles Dicken melalui harian The Times yang berakibat pada pelarangan eksekusi negara. Saat ini, telah umum diketahui bahwa teori keadilan retribusi "darah dibalas dengan darah" tidak berfungsi efektif. Namun, opini massa tetap mempercayai efektivitas sistem tersebut. Opini massa mencoba mencari metode hukuman yang lebih beradab dengan cara memberlakukan eksekusi yang tidak begitu menyiksa. Hal itu berujung pada penggunaan guillotine pada abad ke-18. Korban pertama guillotine adalah Nicolas-Jacques Pelletier yang dieksekusi pada 1792. Eksekusi tersebut dipuji berbagai media massa saat itu karena merupakan eksekusi yang cepat dan bersih. Ketika kepala Charles I dipancung, Andrew Marvell mengungkapkannya dalam bentuk puisi. Bahkan, mereka mungkin juga mendukung hukuman yang relatif tidak menyakitkan pada pelaku pembunuhan. Yang terlepas dari perhatian opini massa yang pro-hukuman mati adalah baik teori retribusi maupun rasa takut saat dieksekusi sama-sama tidak akan melemahkan hati dan determinasi sang pembunuh.

Yang lebih buruk, opini massa tidak peduli sama sekali terhadap kemungkinan nasib seseorang yang secara salah telah dihukum mati.
Dewasa ini, mayoritas orang akan cenderung memilih suntikan mati atau kursi listrik, serta ditembak dengan senapan daripada digantung atau dilempari batu. Mereka semakin takut melihat ceceran darah segar dan kental yang mengalir saat eksekusi berlangsung. Menutut saya, aparatus negara hendaknya memberikan penerangan pada masyarakat bahwa hukuman mati tidak akan memperkecil angka kriminalitas dan mendorong publik untuk berkontemplasi pada tragedi terburuk ketika seseorang yang ternyata tidak bersalah dihukum mati. Negara-negara yang tidak memberlakukan hukuman mati dan melarang hukuman itu sejak beberapa dekade (misalnya, di Kanada) ternyata memiliki angka kriminal pembunuhan yang jauh lebih rendah dibandingkan Amerika.

Sekali lagi, saya mengajak teman-teman untuk mengingat kembali peristiwa “penghukuman mati” ratusan ribu umat manusia di Indonesia. Dalam peristiwa tersebut,opini massa mendukung tidak hanya terjadinya hukuman mati, tetapi juga pembunuhan masal seperti yang terjadi pada masa G30S/PKI dan pembunuhan misterius (petrus) pada masa Orba.
Karakter simplistik dari opini massa jelas sangat berbahaya. Pola pikir simplistik itulah yang Seorang demokrat, di mana pun, hendaknya menyadari bahwa hukuman mati sering dimanfaatkan untuk menumpas lawan-lawan politik di bawah kondisi yang sangat tidak demokratis. Hal itu menunjukkan bahwa opini massa memiliki sejumlah keterbatasan dan perbedaan dengan opini publik. Opini publik merupakan usaha yang disengaja yang tidak sama dengan opini massa. Opini publik diciptakan di bawah kondisi spesifik, di mana informasi tersedia secara luas dan berbagai keputusan diambil secara transparan dengan memperhatikan permasalahan yang paling rentan di masyarakat.Karena itu, sudah waktunya opini publik mengoreksi opini massa dalam hal hukuman mati dengan cara debat terbuka serta transparan, di mana setiap warga negara dilindungi seandainya pengadilan bertindak salah.